photo 44dca132-22a1-4075-a606-ef48a199a5b1_zps49a1316a.jpg
  • القرآن الكريم
  • الحديث
  • Search Ebook
  • Search Ebook
  • Software Download
  • For Android
  • App BlackBerry
  • اللّهمّ صلّ على سيّدنآ محمّد النّبىََّ الاُمي وَعلى آلْْْه وصحبه و سلّم المدرسة المو توسة الاِسلميه الأنصار سكرامى فكفك بهرات

    Kamis, 14 Juli 2011

    Pilar Pradaban Pendidikan untuk anak bangsa


    PILAR PERADABAN



    Pendidikan adalah Pilar tepenting dalam membangun sebuah peradaban yang beradabkan pada Ayat-ayat Allah yang Suci sebagai tuntunan. Karena pendidikan itu muaranya adalah ilmu dan ilmu itu sama dengan “Nur ala Nur” cahaya diatas cahaya dan manusia yang mendapatkan ilmu juga adalah sama dengan Taqwa artinya ketaqwaanya itu adalah takutnya Kepada Allah Sang Pencipta Alam semesta. Oleh karena itu sesungguhnya Allahlah yang mengajarkan pada manusia (‘Rabb’)( tarbiyah-pendidikan) sebagaimana Allah mengajak pada manusia kembali kesurganya Allah. Yakni tempat yang paling layak dalam segala keinginan manusia dan cita-cita ingin melihat Allah dalam rupa yang sesungguhnya dan itu adalah keindahan yang tak terbayangkan. Arti dari semua itu adalah cita cita peradaban didunia ini semata-mata hanya menjalankan perintah dan meninggalkan segala yang merusak secara tersamar atau terang-terangan jiwa manusia dan raga manusia itu sendiri. Nah permasalahan inilah yang paling runyam manakala Indonesia sebagai Negara Mayoritas Islam senantiasa mengambil format dan pelaksanaan pendidikan yang terformulasi kebarat-baratan yang mengangkangi semangat atau ruh Ayat-ayat Allah. Dan betapa Barat senantiasa tidak familiar terhadap keautentikan Ayat-ayat Allah (AlQurán) dan inilah sesungguhnya PR terbesar dalam peradaban Didunia ini ketika Barat menyangkal, justru kita yang meninggalkan hanya menyisakan ruang sebagai penggunaan Sumpah jabatan bagi pejabat yang beragama islam. Negara tidak mengambil ruang yang seluas-luasnya dalam mengembangkan penafsiran AlQuran yang bisa di kejawentakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan semakin semaraknya setiap namanya Pejabat jika tidak tampil bernyanyi dengan satu lagu andalannya serasa tidak gagah. Seolah dengan menyebarkan semangat lagu mereka dapat kegembiraan dan kepuasan bathin inilah fenomena baru ketika Sby menciptakan sebuah lagu yang semua berlomba mencari muka, wow hebat dan bagus Pak Presiden puji mereka. Betapa asiknya seolah terlenalah rakyatnya.Padahal jika kita lihat bagaimana kita mengangkat harkat dan marabat bangsa dengan berkwalitas dan bermutu yang tidak meninggalkan Kitab SuciNya, Pemimpinlah yang sesungguhnya mencontohkan kepada rakyatnya Coba kita melihat Bagaimana dengan masa depan Generasi Muda kita yang kian sibuk berBand Ria, dan TV berlomba menayangkan Musik Live pagi hari dan malami serasa kita tersihir dengan semua itu seolah Peradaban adalah Mesin Industri Musik. Generasi Muda Semua Tersihirlah wong ditambah dengan sang Pemimpin yang juga Focalis sekaligus Komponis. Inilah Potret Buram kita Potret Buram kita sungguh terlihat sangat-sangat jelas didepan mata kita tengok sajalah madrasah-madrasah kita yang semakin ditinggalkan dan bagaimana kenyataan putus sekolah, pengangguran terjadi dimana-mana.
    Secara hitung-hitungan pada tahun 2005 rasio anggaran Pendidikan kita terhadp APBN hanya sebesar 8,1%, denga alokasi RP 33,40 triliyun. Tahun 2006 rasionya meningkat menjadi 10% dengan alokasi 44,11 triliun, tahun 2007 10,5% dengan alokasi 53,07% .pada tahun 2008 18,5% 158,82 Trilliun. Tahun 2009 rasio Anggaran pendidikan terhadap APBN menjadi 20% yang sesuai dengan amanat UUD 1945. maka alokasi anggaran totalnya adalah 207,41 Trilliun, sedangkan tahun berikutnya yaitu 2010 alokasi Anggaran Pendidikan dalam APBN-P mencapai Rp. 221,4 Trilliun.( Sumber Koran Waspada) terlihat bahwa memang aneh sekali lagi maha anehnya bila kita lihat diatas terus bertambahnya anggaran justru semakin tingginya biaya-biya pendidikan di negeri kita. Ketidak tepatan sasaran penggunaan inilah yang menjadi momok bagi rakyat sehingga terbodohkan. Ada apa dengan semua ini, bahkan jika kita melihat dahulu Sebuah perguruan Tinggi IKIP dahulu sama biayanya dengan 14 IAIN se Indonesia ketika itu Hal ini besar kemungkinan terulang lagi, yaitu sebuah marginalisasi bagi mayoritas umat islam. Betapa masih banyaknya umat / rakyat yang terbodohkan. Maka penulis Sangat Protes Keras sekeras-kerasnya kepada yang mebuat kebijakan tengok saja penambahan Anggaran Pendidikan Untuk sekolah yang bertaraf internasional, mana untuk penambahan di jenjang pendidikan Madrasah apa bertambah? Sangat-sangat memalukan begitu banyaknya ormas dan partai politik tidak ada yang membuat nota protes secara tegas, bahkan dalam rangka pendidikan juga untuk anak kita mengenai “susu” pun menteri kesehatan tidak transparan siapa yang m,eggebrak meja kerja mereka Apa malaikalmaut turun tangan? Rasanya perih dan sedihnya kita begitu banyak orang yang menyandang seabek gelar-gelar kependidikan dan keilmuan tapi semuanya semakin dan bahkan tidak paham sama sekali. Sampaikapan kita begini apakah kita tidak mencari dan merubah sistim-sistim yang menekang dan bahkan melenyapkan, memutuskan generasi Penerus Islami yang mengenal akan Pegangan jalan Hidupnya yaitu Alqur’an dan Hadist (Way Of Live). Alquran Adalah sebagai pegangan hidup umat ini, namun belumlah maksimal meski Penghapal Alquran yang terbanyak di dunia adalah Negara kita impelementasi Alquran sangatlah lemah. Alquran lebih banyak dipahami sebagai ibadah jika dibaca, tetapi belum banyak yang paham bahwa mengamalkannya jauh lebih baik. Jadilah berbagai perintah dan larangan yang terkadung didalamnya tidak dipatuhi. Solusinya adalah bagaimana agar kita tua dan muda bersama-sama untuk membuka sirah nabi Muhammad (AlHadist) dan hayatussahabah ketika mereka menghadapi permasalahan hidup dan kehidupan ini. Walau beda kurun dan setting sejarah toh sudah jelas bahwa musuh manusia adalah setan la natu’alaih dan diri kita sendiri, qalbu ( artinya=yang berubah-rubah) diperlukan suatu formula dalam diri kita dan umat untuk melawan semua sifat-sifat negative menuju sifat kebaikan (hanif)” kunci Perbikan Akhlak masyarakat terletak pada intensitas dan efektifitas dakwah dan pendidikan, baik formal maupun non formal. Karena itu, dibutuhkan kerjasama antara para ulama,umara dan Ustaz semua elemen masyarakat untuk mendorong membangun kesadaran beragama yang sungguh-sungguh dan lebih mendalam dalam tataran kehidupan sehari-hari.” Umat Islam tidak mungkin hidup tanpa Alquran sebab ia adalah pedoman mutlak hidup kita, kalau kita tidak memakai AlQuran lalu mau memakai apa Hukum Umat Islam ini ?. disinilah Tolak ukur pemahaman kaum muslimin terhadap Alquran dalam menentukan kualitas Hidup baik individu maupun Masyarakat. Perlu juga Ada Badan Yang khusus memantau Hal tersebut. Jangan hanya ada Badan Standar Nasional Pendidikan. Dan diperlukan juga kretifitas semacam Rumah Zakat diformulasikan dengan yang Baru Rumah ALQuran yang senatiasa dan tetap melengkapi dengan penambahan pemahaman Hadist sehingga ada jasbah dan lebih melengkapi agar pemahaman ini dituntun dari keduannya. Yang terpenting dari semua itu aadalah sikap kita, khusus bagi para ulama dan da’I ketika menyampaikan perintah dan larangan hendaknya dia sudah melaksanakannya. Dengan krisis- yang fundamental sekarang ini mari kita laksanakan Perintah Allah, memberikan contoh kepada orang lain dengan perbutan, selanjutnya kita sampaikan secara lisan. Maka Sebgaimana hadist diriwayatkan Ali bin Abi Thalib rasulullah bersabda Apa bila engkau mendapatkan ilmu, sebarkanlah. Dan janganlah engkau campurkan dengan senda gurau, agar nanti tak dimuntahkan Oleh hati. Akhirnya proses pensucian hati untuk mencapai kebahagiaan hakiki tidak bisa lepas dari relitas kehidupan. Kekuatan spiritual yang dibenturkan dengan dunia nyata adalah lebih utama, lebih kokoh sekaligus dengan pensucian hati di Masjid dan memakmurkannya.. Dan Yang diperlukan adalah Bermuhasabah tanpa perlu mengasingkan diri (uzlah) dengan alasan menjaga kesucian diri. Menghadapi tantangan dengan Berbekal Keimanan yang kokoh dalam pengembaraan sprtitual.


    Tidak ada komentar:

    Poskan Komentar